Wiki

Kuil Salib Fangshan: Jejak Persilangan Buddha dan Kristen di Tiongkok Kuno

101
kuil salib
Gambar kiri - Prasasti dari era Yuan di reruntuhan Kuil Salib. Prasasti lain (kiri) dan beberapa pondasi yang tersebar (kanan) terlihat di latar belakang. Gambar kanan- Balok batu (kiri) dari Kuil Salib menampilkan salib Kristen pada pangkal teratai dan vas bunga. Goresan (kanan) dari balok batu yang menampilkan tulisan Suryani dari Mazmur 34:5–6 di sekitaran salib. balok batu tersebut kini disimpan di Museum Nanjing. (Foto: dok.wikipedia)

infox.id – Kuil Salib merupakan bekas kompleks tempat ibadah bersejarah yang terletak di Distrik Fangshan, Beijing, Tiongkok. Situs ini menyimpan lapisan sejarah keagamaan yang unik karena pernah digunakan oleh umat Buddha dan komunitas Kristen awal, khususnya Gereja dari Timur atau Kekristenan Nestorian, pada periode yang berbeda. Keberadaan Kuil Salib menjadikannya salah satu simbol penting persilangan budaya dan agama di Tiongkok kuno.

Bangunan ini diyakini pertama kali didirikan sebagai kuil Buddha pada tahun 317 Masehi, pada masa awal Dinasti Jin Timur, oleh seorang biksu bernama Huijin. Renovasi besar tercatat terjadi pada masa Dinasti Tang, ketika biksu Yiduan memperbaiki kompleks tersebut. Meski demikian, sejumlah sejarawan memperdebatkan kronologi awal ini karena kemungkinan kesalahan penulisan prasasti pada masa berikutnya.

Situs Ibadah Silang Agama dalam Sejarah Tiongkok

Dalam konteks sejarah agama di Tiongkok, situs ini menjadi menarik karena dugaan penggunaannya oleh umat Kristen Nestorian pada masa Dinasti Tang. Kekristenan Nestorian masuk ke Tiongkok melalui Jalur Sutra dan sempat berkembang di kota-kota perdagangan. Beberapa cendekiawan berpendapat bahwa kuil ini digunakan oleh komunitas Kristen yang melarikan diri dari penindasan agama pada abad ke-9, meskipun bukti arkeologis langsung masih diperdebatkan.

Pada masa Dinasti Liao, kompleks ini kembali berfungsi sebagai kuil Buddha dengan nama Chongsheng Yuan. Prasasti dari periode ini tidak menunjukkan keterkaitan langsung dengan Kekristenan. Namun, pada masa Dinasti Yuan yang diperintah bangsa Mongol, pengaruh Kristen Nestorian kembali menguat di wilayah Beijing. Sejumlah teori menyebutkan bahwa kuil ini kembali dimanfaatkan oleh umat Kristen, bahkan dikaitkan dengan tokoh Nestorian terkenal, Rabban Sauma.

Selama Dinasti Ming dan Qing, Kuil Salib sepenuhnya digunakan kembali oleh umat Buddha. Renovasi besar dilakukan pada abad ke-16, yang juga mengubah dan mengukir ulang prasasti-prasasti lama. Pada periode ini, nama “Kuil Salib” mulai digunakan secara resmi dan populer di kalangan masyarakat setempat.

Penemuan Kembali dan Kondisi Modern

Pada tahun 1919, situs ini ditemukan kembali oleh diplomat Skotlandia Reginald Johnston dan mulai mendapat perhatian akademik internasional. Meski mengalami kerusakan parah selama Revolusi Kebudayaan, situs ini kemudian direstorasi secara terbatas. Pada tahun 2006, pemerintah Tiongkok menetapkannya sebagai Situs Sejarah dan Budaya Utama yang Dilindungi Tingkat Nasional.

Kini, Kuil Salib hanya menyisakan fondasi bangunan, dua prasasti batu dari era Liao dan Yuan, serta peninggalan penting berupa balok batu berukir salib dengan inskripsi bahasa Suryani yang disimpan di Museum Nanjing. Para ahli menilai situs ini kemungkinan merupakan satu-satunya tempat ibadah Gereja dari Timur yang pernah ditemukan di Tiongkok, menjadikannya saksi bisu dialog lintas iman dalam sejarah Asia Timur.

error: Content is protected !!
Exit mobile version