BANYUWANGI, INFOX.ID –
Dugaan keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu sorotan tajam dari para wali murid. Insiden tersebut terjadi setelah makanan yang dibagikan kepada siswa diduga berasal dari penyedia berbeda dari biasanya, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas dan pengawasan program yang merupakan kebijakan nasional tersebut.
Salah satu wali murid, Ivan, mengungkapkan bahwa sebelum makanan diberikan kepada siswa, guru terlebih dahulu mencicipinya sebagai prosedur untuk memastikan keamanan konsumsi. Namun sekitar setengah jam setelah dicicipi oleh seorang guru dan satu murid non-muslim, keduanya mengeluhkan rasa mual hingga akhirnya harus menjalani pemeriksaan, sehingga muncul dugaan kuat adanya keracunan makanan.
Ivan menegaskan bahwa para wali murid tidak menolak program MBG yang merupakan program Presiden. Sebaliknya, mereka justru mendukung penuh kebijakan tersebut, namun meminta pelaksanaannya dilakukan secara serius dan transparan agar benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak, bukan malah menimbulkan masalah baru, Kamis (05/03/26).
Selain dugaan keracunan, wali murid juga menyoroti ketidaksesuaian nilai makanan yang diterima siswa dengan angka anggaran yang beredar di masyarakat. Ivan mengaku sempat membandingkan menu di sekolah lain dan menemukan harga yang dinilai tidak masuk akal, seperti roti yang ditulis Rp2.500 padahal harga ecerannya sekitar Rp1.000, serta buah salak yang dicantumkan Rp2.000 meski harga pasar hanya sekitar Rp500.
Menurutnya, informasi yang diterima para orang tua menyebutkan bahwa nilai makanan untuk setiap siswa berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi. Namun makanan yang diterima anak-anak dinilai hanya setara Rp4.000 hingga Rp5.000, sehingga memunculkan dugaan adanya pemotongan anggaran yang tidak semestinya.
Terkait mediasi yang telah dilakukan, Ivan menilai pertemuan tersebut belum menghasilkan langkah konkret untuk perbaikan. Para wali murid pun berkomitmen akan terus mengawasi pelaksanaan program MBG, bahkan tidak menutup kemungkinan akan menggerakkan masyarakat agar persoalan ini menjadi perhatian yang lebih luas apabila kondisi serupa kembali terjadi.
(Tim).





